“Rethinking Cool” Gaya Anak Muda Bandung

Tak sengaja, suatu siang, saya mendengar percakapan dalam bahasa Sunda dua orang anak laki-laki berseragam SMP di angkot Cihaheum-Ledeng, dalam perjalanan ke tempat kerja saya.

“Maneh geus meuli sendal 347 can?” pertanyaan dalam bahasa sunda yang artinya: ‘kamu sudah beli sendal 347 belum? ‘, mengusik saya. Secara reflek, saya memandang si penanya yang duduk di hadapan saya.

Ketika memandang mimik mukanya yang berapi-api, mata saya terpaut pada ransel sekolah yang ada dipangkuannya, merek 347, menghiasi ransel berwarna biru tua itu. Baca entri selengkapnya »

Hasta La Vista

Terpaksa mengatakan hasta la vista atau mendengar orang lain mengatakan itu, ternyata sama ga enaknya. Apalagi jika itu dikatakan saat aku masih berkeyakinan bahwa itu bukan keputusan yang semestinya aku ambil. Itu adalah keputusan terakhir.

Atau, hal itu terucap dari orang yang tidak cukup punya energi menghadapi tantangan bekerja bersamaku. Aku jadi merasakan ulang, apakah aku yang terlalu tidak sabar menghadapi orang yang aku yakin dia mampu melakukannya? atau aku yang terlalu ‘kurang kerjaan’ memberikan tantangan berlebih pada orang yang ternyata tidak cukup punya semangat untuk menjalaninya. Bisa jadi tantanganku itu tidak cukup berarti baginya.

Jadi daripada membuang-buang waktu menghadapinya lebih baik dihindari saja. Ya,  mungkin ini caraku menghibur diriku sendiri dari rasa kecewa saat orang yang aku yakin mampu, ternyata lebih memilih tidak menerima tantangan dariku dan meninggalkanku.
Baca entri selengkapnya »

Jangan Katakan ‘Tidak Bisa’ Padaku, Sebelum Kau Mencobanya

Apa yang harus kulakukan, ketika menghadapi seseorang yang kutawari sebuah kesempatan untuk berkembang (tentunya dengan keyakinan bahwa dia bisa melakukannya), tapi jawaban yang kudapatkan adalah

“saya ga mau. Ga aja, karena perasaan saya mengatakan demikian. Takutnya nanti kalau dipaksakan malah merusak semua yang sudah saya kerjakan.” Aku tentu saja marah tapi lebih besar merasa kecewa karena aku tidak menyukai sikap menyerah sebelum mencoba. Baca entri selengkapnya »

Sebutir Kacang Meninggalkan Kulit

Siang tadi di tengah hujan dan kehangatan meja kerjaku:

Kamu meminta pelukan. Aku memberikannya. Tapi yang kurasakan hampa saja. Seperti kulit kacang tanpa isi. Rasanya tidak sepenuh pelukan ibu. Aku tidak mengenalimu lagi. Suratmu membuatku merasa, aku ini bid’ah untuk proses kreatifmu.

Aku merasa berhadapan dengan seorang fundamentalis. Mmm.. ralat, mungkin seorang idealis pemula yang sangat-sangat yakin dengan dunia di balik cakrawala sana seperti yang ada dalam bayanganmu sendiri. Kamu benar. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Perumpamaan. Tag: . Leave a Comment »